Blog

New Project: Urban Landscape

Sebagai orang yang tinggal di perkotaan, pergi ke alam terbuka adalah sebuah bentuk meditasi bagi saya. Kesukaan saya terhadap alam juga pada akhirnya memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap karya saya selama ini, yang banyak berfokus pada unsur-unsur alami seperti pohon, air, dan bebatuan.
Sebaliknya, kota sebagai tempat saya tinggal justru tidak pernah secara serius saya jadikan insprasi dalam berkarya. Saya merasa kota adalah hal yang sangat biasa, bahkan sedikit negatif. Saya melihat kota hanya sebagai lingkungan tempat saya lahir dan hidup, dan saya juga cenderung fokus memikirkan (atau mengeluhkan) seputar masalahnya saja. Seperti kemacetan, sampah, pembangunan yang tidak beraturan, overpopulasi, dan lain-lain.
Seiring berjalannya waktu, timbul keinginan untuk membongkar ulang cara pandang saya terhadap kota. Dengan perspektif yang berbeda ini, saya mencoba melihat kembali hal-hal kecil kecil yang selama ini saya lewatkan. ”Koeksistensi” pun saya pilih menjadi kunci yang utama, karena dalam proses pencarian perspektif baru ini, saya menemukan bahwa tumbuhan (representasi dari alam) dan bangunan (representasi dari kota/urban) entah bagaimana masih dapat bersinergi, walaupun sebagian terjadi tanpa disengaja.
Masih dengan pendekatan minimalis, saya mencoba mengeksplorasi cara bagaimana agar kedua hal tersebut bisa saya hadirkan dalam satu bingkai.

New Zealand Trip - Part 2

Setelah melewati hari-hari yang menyenangkan di Mt. Cook, hari itu saya membiarkan adik saya untuk berada di belakang kemudi. Kami melanjutkan perjalanan menuju Wanaka melalui Twizel, Omarama, lalu Lindis. Seperti perjalanan manuju Mt. Cook, pemandangan selama perjalanan selalu terlihat indah.  Saya merasa cukup lelah saat itu, mungkin sisa perjalanan sehari sebelumnya (ditambah pagi itu saya kembali ke viewpoint). Namun sepertinya tidak bisa begitu saja saya tidur di perjalanan

Read More

New Zealand Trip - Part 1

Berawal dari sebuah tawaran memotret Wedding di Auckland membawa saya menjelajah ke "bottom of the world", sebuah pengalaman yang rasanya sulit untuk dilupakan karena seluruh perjalanan dilalui dengan menyetir "rumah berjalan" alias RV/motorhome. Berangkat dengan Malaysia Airlines via Kuala Lumpur, saya mendarat di Auckland setelah 10 jam perjalanan.

Read More