Blog

New Zealand Trip - Part 2

Gate to The Fiordland, Fiordland National Park, 2017

Setelah melewati hari-hari yang menyenangkan di Mt. Cook, hari itu saya membiarkan adik saya untuk berada di belakang kemudi. Kami melanjutkan perjalanan menuju Wanaka melalui Twizel, Omarama, lalu Lindis. Seperti perjalanan menuju Mt. Cook, pemandangan selama perjalanan selalu terlihat indah. Saya merasa cukup lelah saat itu, mungkin sisa perjalanan sehari sebelumnya (ditambah pagi itu saya kembali ke viewpoint). Namun sepertinya tidak bisa begitu saja saya tidur di perjalanan, beruntung setelah sekitar satu setengah jam perjalanan kami tiba di Lindis Pass. Saya pun turun sebentar untuk memotret. 

 

Lindis Pass, Otago, 2017

 

Lewat dari Lindis Valley, akhirnya kami tiba di Wanaka. Sungguh kota kecil yang indah, mungkin hanya terdiri dari 15-20 blok saja. Namun bagi saya yang mencintai ketenangn, berada di sana seperti berada di kota impian. Anda bisa membeli dan menikmati segala yang anda butuhkan sebagai insan modern, namun anda juga tetap bisa merasakan damainya sebuah kota kecil. Belum lagi ditambah suasana musim gugur yang membuat kota tersebut semakin berwarna.

Lamunan saya buyar ketika melihat sebuah dump station, karena teringat kalau sudah tiga malam berlalu namun kami belum membuang limbah sekalipun. Walaupun saya sadar kalau toilet RV hanya digunakan jika kepepet saja, namun lebih baik dibuang ketika ada kesempatan bukan? Dan seperti yang sebelumnya sudah disepakati, karena SIM Verby sudah mati dan dia terlalu malas untuk mengurusnya lalu membuat SIM internasonal, maka seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan limbah menjadi tugas dia.
Hari itu kami berencana menginap di Wanaka Lakeview Holiday Park. Dan ternyata lokasinya tepat di depan dump station, maka setelah semua selesai, kami masuk dan check in. Lokasi campsite sangat bagus, letaknya tepat di depan danau Wanaka dan hanya berjarak 3 menit dari Wanaka Tree yang terkenal itu. Malam itu kami ke supermarket untuk mengisi ulang supply untuk beberapa hari kedepan, karena melihat coin bbq pit di dekat dapur, maka membeli daging sapi sepertinya ide yang bagus, tidak ketinggalan dengan wine murah khas supermarket. Setelah berbelanja, kami pun langsung menuju bbq pit, memasukkan koin $2, lalu membakar daging dan sosis yang kami beli. Itu semua adalah jaminan tidur nyeyak kami malam itu.

 

$2 BBQ Pit, Wanaka, 2017

 

Seperti biasa, keesokannya saya bangun pagi sekali. Apalagi kalau bukan memotret "That Wanaka Tree" yang sudah mendunia itu. Namun saya sedikit kecewa ketika sampai disana karena air sedang surut sehingga pohon tersebut tidak berada di tengah air melainkan terlihat seperi pohon biasa di pinggir danau. Dan sialnya (atau untungnya?) Langit saat itu sangatlah bagus, terlihat dramatis dan berwarna. Sebagian besar fotografer yang berada disana cukup senang melihat perubahan langitnya, namun buat saya itu hanya menambah patah hati saja, karena saya tidak bisa mendapat gambar yang sempurna disana. Setelah mengambil 1 gambar, saya langsung kembali ke RV untuk sarapan.

 

That Wanaka Tree, Wanaka, 2017

 

Selepas sarapan, saya kembali di belakang kemudi untuk menyetir menuju Queenstown. Saya diberi tahu saat serah terima RV untuk lewat Cromwell karena jalan di Cardrona terlalu curam. Hal itu cukup menambah waktu perjalanan, namun kami mendapat ganjaran berupa toko buah sepanjang perjalanan dan indahnya musim gugur yang baru pertama kali saya alami di sekitar Arrowtown menuju Queenstown.

 

Jone's Fruit Stall, Cromwell, 2017

 

Sesampainya di Queenstown, kami menginap di Queenstown Lakeview Holiday Park. Sejauh ini, ini adalah campsite terbaik yang pernah saya singgahi selama di New Zealand. Wajar saja, mungkin karena berada di kota dan wilayah yang merupakan turis hotspot, dan itu semua harus dibayar dengan harga yang mahal. Dan hari itu saya tidak memotret karena sore hari telah dihabiskan oleh Verby dan daik saya yang melakukan bungee jumping di Kawarau Bridge, lagipula saya harus beristirahat karena perjalanan di hari berikutnya akan sangat panjang.

Hari berikutnya adalah hari yang cukup saya tunggu, karena hari itu adalah saatnya melakukan perjalanan dari Queenstown menuju Milford Sound. Karena selama melakukan perencanaan perjalanan saya hanya fokus pada tujuan akhir yaitu Milford Sound, saya tidak aware kalau pemandangan melalu State Highway 94 atau yang biasa disebut Milford Road sangatlah menakjubkan. Dimulai dari menyusuri pinggir danau Wakatipu hingga melewati beberapa desa kecil yang terlihat sangat tentram seperti Kingston dan Garston.

 

Garston Hotel, Garston, 2017

 

Sesampainya di Te Anau, saya melihat papan petunjuk yang menganjurkan untuk mengisi penuh bahan bakar karena tidak ada pom bensin sepanjang Milford Road, hanya ada satu pom bensin di Milford Sound namun dengan stock yang terbatas. Maka saya mengisi penuh bahan bakar di Te Anau sebelum melanjutkan perjalanan menuju Fiordland National Park. Namun sebelum itu, kami berhenti sejenak di Henry Creek Campsite yang sangat sepi untuk istirahat dan makan siang. Maksud saya dari sangat sepi adalah, hanya ada satu RV yaitu RV kami sendiri di campsite yg berada agak masuk ke dalam hutan.

 

Henry Creek Campsite, Te Anau, 2017

 

Kini giliran adik saya menyetir setelah makan, kami melanjutnya perjalanan, masih dengan menyusuri danau Te Anau. Pemandangan yang disuguhkan pada kami masih seperti biasa. Domba, bukit, padang rumput, pohon dengan daun kemerahan karena musim gugur. Namun itu semua berubah seketika ketika melewati Te Anau Downs. Seketika pohon di kiri dan kanan menjadi lebat dan sangat hijau. Cahaya matahari yang masuk pun menjadi sedikit. Selain itu, udara terasa semakin lembab, rasanya seperti memasuki hutan hujan tropis. Dan pemandangan seperti itu masih terus berlanjut hingga masuk cukup dalam ke are Fiordland National Park.
Semakin dalam kami masuk ke area National Park, pemandangan semakin menakjubkan. RV kami seperti masuk kedalam celah bebatuan super besar yang memiliki puluhan air terjun dari atasnya, beberapa lengkap dengan salju dipucuknya. Suasana berkabut, hujan, berawan, namun kadang ada cahaya matahari yang menerobos masuk, sungguh tidak karuan. Dan bebeatuan dengan air terjun seperti itu membentang hingga berkilo-kilo jauhnya, cukup membuat melongo.

 

Our RV at Monkey Creek, Fiordland National Park, 2017

 

Setelah melakukan beberapa pemberhentian, sampailah kami di mulut Homer Tunnel, terowongan sepanjang 1.2 kilometer yang hanya memiliki satu lajur, jadi mobil yang melintas harus saling menunggu untuk bergantian lewat. Mulut terowongannya merupakan formasi batu yang sangat besar dengan gletser diatasnya, dan di sisi kiri kanannya terdapat puluhan air terjun yang mengalir kebawah, sungguh dramatis.
Setelah melewati terowongan, kami disambut dengan pemandangan spektakuler, sebuah jalan berkelok menurun di celah sempit antara 2 formasi batu, ditambah dengan awan yang begitu dekat ditengahnya. Tanpa pikir panjang kami langsung berhenti dan saya pun langsung mengeluarkan kamera dan tripod untuk memotret pemandangan didepan saya sebelum cahaya berubah. (gambarnya sudah anda lihat diatas ketika baru membuka blog ini).
Belum hilang rasa kagum saya, tiba-tiba kami dikagetkan oleh sekelompok burung kea yang seolah mengajak seluruh turis yang sedang berhenti disana. Seperti jenis burung kakatua lainnya, burung kea terlihat sangat cerdas dan dapat diajak bermain maupun berkomunikasi. Terlihat satu orang turis wanita bermain petak umpet dengan mobilnya bersama seekor kea.

 
 Kea Birds, Source: New Zealand Department of Conservation

Kea Birds, Source: New Zealand Department of Conservation

 

Sadar hari sudah menuju sore, saya bergegas meninggalkan para kea dan melanjutkan perjalanan. Setelah 20 menit, akhirnya saya sampai di Milford Sound. Tadinya kami berencana untuk check in terlebih dahulu, namun karena hari sudah sore dan saya tidak ingin ketinggalan sunset, maka saya bergegas parkir dan turun menuju bibir pantai. Ini adalah pantai teraneh yang pernah saya datangi, karena Milford Sound adalah sebuah fiord, yaitu laut yang menjorok jauh hinga ke daratan akibat lelehan gletser dari gunung gunung di sekitarnya. Secara visual, Milford Sound terlihat seperti sungai diantara tebing, namun ketika saya cicipi airnya, terasa asin walaupun telah tercampur air tawar yang berasal dari lapisan tebal gletser yang mencair.
Saya mencicipi air disana ketika menunggu 30 detik exposure kamera saya. Kondisi langit cukup bagus saat itu, air pun surut cukup jauh sehingga saya dapat bebas memasukkan foreground dalam komposisi foto saya. Tidak banyak foto yang didapat hari itu karena hari sudah sangat sore, namun saya cukup puas dengan hasil yang didapat.

 

MIlford Sound, Fiordland National Park, 2017

 

Selesai memotret, kami menuju campsite dan check in di Milford Sound Lodge. Tempatnya bagus dan lengkap, seperti di Wanaka namun sedikit lebih kecil. Khusus campsite untuk RV/campervan berada di area hutan hujan, sangat menarik. Tadinya saya berencana menggunakan dapur untuk memasak, namun ternyata cukup ramai. Wajar saja karena lodge ini adalah satu satunya penginapan di Milford Sound, padahal Milford Sound merupakan salah satu tujuan utama hampir semua turis yang datang ke South Island. Namun sisi baiknya, jadi ada kehangatan didalam sana. Baik dalam ungkapan maupun arti sebenarnya. Malam itu kami beristirahat dengan lelap.

 
 Campsite, Source: Milford Sound Lodge

Campsite, Source: Milford Sound Lodge

 

Kami bangun di pagi hari untuk mengejar cruise paling awal, setelah parkir dan membeli tiket Southern Discoveries Cruise, kami berjalan sekitar 5 menit sampai ke dermaga, Di gedung terminal terdapat infografis mengenai sejarah Milford Sound mulai dari pertama kali ditemukan, hingga saat ini. Tidak lama terdengar pemberitahuan untuk segera menaiki kapal.
Kapal pun berangkat, sambil menikmati breakfast, kami menyusuri salah satu fiord terpanjang di New Zealand tersebut sekitar 45 menit hingga mencapai mulut samudera. Selama perjalanan, peserta dipersilahkan untuk keluar dan menikmati pemandangan dari dek. Berbekal jas hujan para peserta naik dan menikmati keajaiban alam yang tersebut. Tak terhitung ada berapa jumlah air terjun yang berasal dari hujan dan gletser yang turun melalui tebing-tebing batu yang sangat tinggi. Selain itu kami juga melihat gunung bersalju tinggi menjulang tepat dipinggir air, singa laut, dan pelangi. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Setelah mencapai ujung fiord tersebut, kami memutar balik dan kembali menuju arah daratan. Sebelum mendarat sang kapten mengarahkan kapal mendekati Stirling Falls, salah satu air terjun terbesar disana. Airnya sangat deras sehingga membentuk pola yang sangat indah ketika berbenturan dengan permukaan dibawahnya.

 

Waterfalls of Milford Sound, Fiordland National Park 2017

Stirling Falls, Fiordland National Park, 2017

 

Dengan bersandarnya kapal di dermaga, maka berakhirlah petualangan kami di South Island. Pagi itu saya langsung menyetir pulang menuju Queenstown. Kami menyempatkan diri untuk mempir di MIrror Lake yang terlewatkan di hari keberangkatan sebelum melanjutkan perjalanan. Kami menginap semalam dan kembali terbang menuju Auckland esok harinya. Kami juga melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi beberapa tempat wisata di North Island. Saya sendiri merasa petualangan telah berakhir karena di North Island kami melakukan perjalanan dengan sedan 4 pintu, makan di restoran, dan menginap dengan Airbnb. Bahkan saya tidak memotret apapun karena yang dikunjungi adalah spot turis seperti Rotorua, Hobitton, dan beberapa pantai di dekat Auckland.

 

When The Journey Ends, Fiordland National Park, 2017